Salamatus Sadr-serendah ukhuwah, setinggi Syurga-(Pesan Seorang Murobbi pada Mutarobbinya)

Disebutkan dalam sebuah riwayat bahawa Nabi SAW pernah duduk di dalam masjid di tengah-tengah para sahabat, lalu beliau bersabda kepada mereka, “Sekarang akan masuk ke tengah-tengah kalian salah seorang calon penghuni syurga.”

Lalu muncullah seorang lelaki yang bekas air wudu’nya masih menetes dari janggutnya, lalu ia mengerjakan solat dua rakaat dan duduk. Ketika datang hari kedua, Nabi mengatakan hal yang sama, lalu lelaki itu muncul seperti hari semalam. Dan demikian pula pada hari ketiga.

Abdullah Ibn ‘Amru pun mengikuti orang ini dan menginap di rumahnya untuk mengetahui puasa dan solat malamnya. Namun ternyata Ibn Amru tidak mendapatinya melakukan hal itu. Ia pun menanyakan perihal tersebut kepadanya. Lalu orang itu menjawab, “Sesungguhnya setiap aku tidur di malam hari, maka dalam hatiku tidak pernah menyimpan rasa khianat dan dengki kepada seorang pun di antara kaum Muslimin.” Ibnu ‘Amru berkomentar, “Inilah yang membawamu sampai ke darjat seperti itu, sementara kami tidak mampu meraihnya.”

Ikhwah & Akhawat, alangkah bahagianya hidup sahabat ini… alangkah lapangnya dadanya dari kesempitan tekanan hasad.. Inilah contoh Salamatus-Sadr yg paling luas kelapangannya.. yg paling subur dan damai rentangannya.. Masalah2 yg ditimbulkan kawan2 sekelilingnya akhirnya menjadi kuncinya di tombol Syurga.

Walaupun, ada segelintir manusia yg mmg mudah berlapang dada dan memaafkan, namun, sifat sebegini boleh kita sama2 pupuk dgn usaha2 insani seperti menjaga batas2 dan berusaha utk memudahkan urusan ikhwah lain. Kita juga perlu berusaha mengelakkan dari menimbulkan sebarang kerumitan dan isu terutama yg puncanya bersifat peribadi; atau kdg kala kerana perbezaan pendapat diri kita yg masih mentah lalu bertentangan dgn keputusan kepimpinan; atau perbezaan pandangan kita yang sudah ‘alim yang bertentangan sedikit dengan ikhwah lain. Ini semua perlu diurus dalam keadaan lapang dada & kasih sayang.

Kasih sayang yang paling rendah ialah berlapang dada dan paling tinggi ialah mengutamakan orang lain,” kata Hasan Al-Banna berkenaan ukhuwwah. Maka berlapang dadalah! terutama dikalangan mujahid dakwah. Dialah yg pertama skali yg perlu belajar berlapang dada. Ia dapat mencipta suasana ukhuwwah yg melancarkan urusan dakwah, tanpa digugat hasad & sangka buruk yang biasa menenggelamkan manusia dalam kemelut & percakaran.

Disamping itu, saling mendoa dan memaafkan juga dapat membebaskan diri dari beban-beban pergaulan (eg. hasad, terasa hati, etc) lalu mencipta suasana tenang utk berhadapan dgn sahabat dalam pertemuan seterusnya. Berterusan dalam amal ini, InsyaAllah dapat melahirkan individu yg tidak panas baran, sabar, seterusnya redha dan akhirnya mencapai darjat seperti sahabat Nabi ini. Para ulama menceritakan kebiasaan Ibn Sirin. Setiap kali beliau beranjak ke tempat tidur, maka beliau selalu membersihkan diri dari debu, lantas membaca Al-Ikhlas tiga kali dan juga ayat-ayat mu’awwidzat (perlindungan), kemudian memanjatkan doa, “Ya Allah, berikanlah ampunan kepada orang yang mencelaku, yang menzalimiku, dan yang mencaciku. Ya Allah, berikanlah ampunan kepada orang yang melakukan hal itu kepadaku dari kalangan muslimin.”

 

Jadi, ketahuilah kekurangan sesama manusia adalah lumrah. Ia adalah ujian utk siapa yg ingin berlapang dada, atau siapa yg ingin berpisah daripada siapa; kukuhkah alasannya? Basysyar bin Burd bersyair:

Jika engkau selalu mencela dalam segala hal

Engkau tidak akan mendapatkan temanmu yang tidak engkau cela

Berlapang dada harapnya menjadi pendirian kita sebagai bukti minimum setia dan thiqah kita kepada manhaj dakwah ini, yg di dalam mengharunginya, kita bertemu dengan pelbagai karenah manusia.. Ia juga mesti menjadi pendirian kita terhadap kecenderungan2 metod taghyir yang lain. Teringat juga kata Ust Fauzi Asmuni: “..Kita bersahabat sampai hari qiamat

Begitu juga pendirian kita kepada insan2 yg menyimpan hasad, mencaci, mengata, merendah dan menzalimi kita.. baik yang kita ketahui, mahupun yg kita tidak ketahui.. Mudah2an rahmat & keampunan Allah ditebarkan kepada orang2 beriman seluruhnya.. Mudah2an dgn mengosongkan jiwa dari sebarang kedengkian mampu mencalonkan diri kita ke Syurga Allah, setinggi ganjaran dengan serendah ukhuwwah, sebagaimana kisah sahabat yg dinyatakan tadi.

Katakan kepada orang yang dengki kepadaku

Apakah engkau tahu, kepada siapa engkau berbuat jahat

Sebenarnya engkau berbuat jahat kepada Allah

Kerana engkau tidak rela atas apa yang Allah berikan kepadaku

Maka kuucapkan terima kasih kepadamu kerana pahalaku akan bertambah

Dan aku tidak perlu repot-repot memelas kepadamu

Allahu’a’lam..

http://addinkhalid.wordpress.com/2009/10/22/salamatus-sadr-serendah-ukhuwwah-setinggi-syurga/

mutarobbi : “mbak nasehati aku, nasehati aku agar aku tak selalu menuntuk orang lain membersamaiku meski tuntutan itu hanya dalam hati saja, kuatkan aku mbak”
murobbi : “subhanallah.. Salamatus Sadr ya sayang, dengannya(Salamatus Sadr) Allah akan semakin cinta dengan anti”
mutarobbi : “syukron mbak,, selalu do’akan ana, doakan ana agar lapang memberi lebih meski disaat sempit”

Desa Masa Kecilku.. Ohh Desa Ayahandaku

Desaku yang kucinta…
Kau sudah banyak berubah..
Aku masih ingat, saat kecil kudibesarkan beberapa tahun disana, meski aku tak dilahirkan di desa itu. Di tanah kelahiran ayahandaku tercinta. Desa itupun yang menjadi saksi kemanjaan kakek dan nenek mendapati cucu pertamanya, menjadi saksi pula kegembiraan saudara2 ayah memajakan keponakan pertamanya.
Dan kini kau banyak berubah. Jalan raya depan rumah itu, rumah yang memiliki halaman yang sangat luas, masih berupa tanah yang ketika hujan turun menggenanglah tanah itu.
Cerita kecil yang sangat mengasikkan. Kebiasaan sewaktu hujan turun sangat deras, aku langsung berlari keluar rumah meminta izin ayah untuk bermain hujan-hujanan, setelah itu memanggil seluruh anak-anak desa untuk bermain di jalan raya itu. mengikuti aliran air yang kecoklatan karena bercampur dengan tanah. Setelah itu membangun rumah-rumahan bak pasir di pinggiran pantai. Atau sering melubangi tanah itu sehingga mampu menjadi jembatan. Ketika ada truk lewat dari kejauhan anak yang paling ujung selalu meneriaki “heeeeiiiiiiiii ada trukkk ayo segera minggir” lalu kami serentak meninggalkan bangunan kami untuk minggir sebentar dan menikmati cipratan air dari ban truk tersebut, lalu tertawa bebas. Ibu selalu melarang dan memarahai kalau aku bermain hujan-hujanan takut sakit lah atau apalah maka dari itu aku tak pernah meminta izin padanya kala itu, hanya kepada ayah.. yak,, ayahlah yang selau berteriak mendukung “ sana, sana,, agak jauhan disana mainnya. Disana banyak air dan tanahnya. Pokoknya klo ada kendaraan minggir.” Saat ibu melarang “jangan main kesana, banyak kendaraan,, nanti klo ada truk bahaya.” Ahh anak seusia itu klo dilarang ya malah tambah menjadi-jadi… masih kecil.. masihh kecil sekali…
Jalanan itu juga yang menjadi saksi, saat kakek menggoncengku sepulang TK saat itu (mungkin aku berumur 2 tahunan) karena kondisi jalan yang penuh tanah membuat kakek sulit menjaga keseimbangan sehingga kami terjatuh. Aku masih dapat mengingatnya dengan jelas. Lalu kakek segera membantuku untuk berdiri, aku tak merasa ada yang terluka, Cuma aku dapati kaki kecil mungil yang super gemuk itu masuk kedalam jeruji.. ahh tapi jujur aku tak merasai kesakitan. Sesampainya dirumah kakek bilang bahwa kami habis terjatuh, lalu spontan nenek berteriak2 khawatir dan dengan lembut melepas sepatuku melihat ternyata disana ada darah yang mengucur sambil memarahi habis-habisan kakek. Kakek terlihat merasa sangat bersalah. Melihat nenek yang begitu khawatir lalu tiba-tiba air mataku jatuh tak tertahankan lalu berteriak sekencang-kencangnya. Nenek yang melihatku seperti itu, malah tambah hebat memarahi kakek, sesungguhnya aku ingin bilang “aku nangis bukan karena sakit kok nek, tapi karena lihat nenek yang histeris” tapi karena aku masih sangat kecil, aku bingung menyampaikannya akhirnya tambah aku kencangin saja tangisku. Yak entah mengapa, aku masih sangat ingat kejadian itu, padahal umurku sangat dini sekali.
Ngomong-ngomong soal kakek, aku jadi ingat kisah lucu lagi diwaktu kecil, saat kakek sedang mempertajam aritnya untuk memisahkan sepet dari batok kelapa, saat itu kakek berpesan “jangan disentuh ya nanti terkena tangan sakit” aku mangut-mangut. Lalu kakek pergi meninggalkanku sebentar, melihat tidak ada orang, tengok kanan tengok kiri… akhirnya aku penasaran “kakek lihai banget tadi bermain aritnya, aku juga pasti lihai, lihat saja akan aku tunjukkan kepada kakek bahwa aku juga bisa” kondisi anak sekecil itu yang bahkan pisau daging dan tanganpun masih besaran pisaunya, aku lalu diam-diam mengikuti cara kakek dan al hasil telunjukku terkena sabetannya darah mengalir begitu banyak, kakek datang lalu aku hanya bisa memandangnya diam, awalnya tak ada rasa tapi lama-lama sakit juga, akhirnya aku nangis sekencang-kencangnya, melihat itu kakek langsung merelakan bajunya untuk tangan berlumuran darah itu.. lalu lagi-lagi kakek kena marah nenek habis-hasbisan atas kecerobohanku, tapi kakek tak pernah marah padaku.. ahhh, nakal banget sihh aku waktu kecil..
masih ada kisah lucu yang dikenang oleh orang-orang desa hingga saat ini… ahh kisahnya terlalu lucu untuk diceritakan.. terlalu lucu…
dan kini kudapati tak ada tanah di jalan raya itu.. aspal telah membabat habis kenangan masa kecilku itu.. aku rindu dengan tanah, jembatan, air itu… iya sihh.. aspal akan mempermudah jalan dan tidak berbahaya ketika dilewati. Tapi setidaknya itu juga bisa menjadi tempat bermain yang sangat mengasikkan daripada dufan atau sederajatnya.. dan kini, hanya tinggal kenangan…
Desa ayahandaku sayang kau sudah banyak berubah…

idealisme kami

Betapa inginnya kami agar bangsa ini mengetahui bahwa
mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri.
Kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur
sebagai penebus bagi kehormatan mereka,
jika memang tebusan itu yang diperlukan.
… continue reading this entry.

penyemangat dikala kekhawatiran melanda

Penyemangat dikala kekhawatiran melanda

Diamlah dan lakukan..

Meski semua orang akan ingkar

Namun kau tau kenapa kau harus berada disini..

Kau lebih tau maka diamlah..

Umur bukan jaminan menjadi lebih faham

Jalan ini memang mendaki lagi berduri lancip

Namun tetaplah teguh..

… continue reading this entry.

Love Is Not Blind

Beberapa jam berkelana dalam dunia facebook, membuat aku menjadi ingin menulis sesuatu hal. Membaca status teman-teman yang kebanyakan bertemakan tentang “cinta” membuatku tersenyum geli. Sebegitu mudahkah mereka mengejawantahkan sesuatu hal yang dinamakan dengan “cinta”. Mulai dari lagu lama “ mencintaimu adalah sebuah anugrah” ( musibah kale ) hingga lagu terbaru pun “ aishiteru “ mereka embat untuk status mereka. Ada yang lagi kasmaran dengan bahasa “ say, say, say, aku cinta banget sama kamu” (emang gue pikirin), ada pula yang cinta tak tersampaikan “ harus berapa kali aku mengucapkan kata cinta agar kau mengerti bahwa aku benar-benar mencintaimu” (sapa suruh jatuh cinta), ada pula yang cinta tak direstui “ salahkan aku mencintaimu “ (ya terang salah lah). Lagu-lagu kayak gitu sih kagak masalah bagiku asal obyeknya jelas.  Kata cinta itu, sebegitu mudahnyakah terungkapkan, terluapkan?. Jika itu adalah devinisi cinta sesungguhnya bagi mereka, maka dengan tegas aku mengatakan itu belum seberapa dari kata cinta itu sendiri. … continue reading this entry.

duh jaga hijad dong!!

Duh,Jaga Hijab Dong…

Dia ikhwan ya? Tapi kok kalau bicara sama akhwat dekat sekali???,tanya seorang akhwat kepada temannya karena ia sering melihat seorang aktivis rohis yang bila berbicara dengan lawan jenis, sangat dekat posisi tubuhnya.

… continue reading this entry.

suara hati seorang akhwat

Aku ingin bicara atas nama Wanita, terlebih Akhwat (kalau boleh sih). Apa beda?, silahkan antum memaknainya.. Tolong untuk para Ikhwan (atau yg merasa sebagai Muslim) : Wanita adalah makhluk yang sempit akal dan mudah terbawa emosi. Terlepas bahwa aku tidak suka pernyataan tersebut, but itu fakta. Sangat mudah membuat wanita bermimpi. Tolong, berhentilah memberi angan-angan kepada kami. Mungkin kami akan melengos kalau disapa. Atau membuang muka kalau dipuji. But, jujur saja, ada perasaan bangga. Bukan suka pada antum (mungkin) but suka karena diperhatikan “lebih”.

… continue reading this entry.

pudarnya pesona cleopatra

Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalam kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal. “Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu,” kata ibu.

“Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu,” ucap beliau dengan nada mengiba.

Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi di hatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku.

Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu saja dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan impian tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran) sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan anggun. Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali.

Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, “Cantiknya alami, bisa jadi bintang iklan Lux lho, asli !” kata tante Lia. Tapi penilaianku lain, mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung indah, mata bulat bening khas Arab, dan bibir yang merah. Di hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia.

Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari pernikahan datang. Duduk di pelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa cinta, Pestapun meriah dengan empat group rebana. Lantunan shalawat Nabipun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai. Rabbighfir li wa liwalidayya!

Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya. Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan kepura-puraanku.

***

Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota Malang. Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit cintaku belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing.

Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama Raihana mulai kurasakan,

… continue reading this entry.

surat dari umi tercinta

Surat umi kepada anaknya

Kepada yang umi cintai sepenuh hati

Buah hatiku di bumi Allah ……

Assalamu’alaikum warohmatullohhi wabarokatuh

Bagaimana kabarmu sayang…umi harap ananda selalu dalam lindungan Allah. Umi terpaksa menulis surat ini.. rasa kangen di dada umi ini rasanya sudah tak tertahankan lagi sayang. Umi minta maaf…. kalau kedatangan surat umi ini mengganggu ananda. Maafkan umi kalau surat ini membuat ananda malu dengan teman-teman. Sungguh… tidak ada niat umi seperti itu…. hanya untuk melepas kangen umi sama ananda.

Sayang… ingin rasanya umi menjengukmu ke sana. Wajah ananda selalu muncul dimimpi umi.

… continue reading this entry.

wanita suci!!!

(Suara hati seorang ikhwan)

Untuk seluruh WANITA SUCI di Dunia.

Wanita suci,

Mungkin aku memang tak romantis tapi siapa peduli? Karena toh kau tak mengenalku dan memang tak perlu mengenalku. Bagiku kau bunga, tak mampu aku samakanmu dengan bunga terindah sekalipun. Bagiku manusia adalah makhluk yang terindah, tersempurna dan tertinggi. Bagiku dirimu salah satu dari semua itu, karenanya kau tak membutuhkan persamaan.

Wanita suci,

Jangan pernah biarkan aku menatapmu penuh, karena akan membuatku mengingatmu. Berarti memenuhi kepalaku dengan inginkanmu. Berimbas pada tersusunnya gambarmu dalam tiap dinding khayalku. Membuatku inginkanmu sepenuh hati, sesemangat mentari.Kasihanilah dirimu jika harus hadir dalam khayalku yang masih penuh Lumpur. Karena sesungguhnya dirimu terlalu suci.

Wanita suci,

Berdua menghabiskan waktu denganmu bagaikan mimpi tak berujung.

… continue reading this entry.

« Older entries
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.